PEMUDA HARUS SIAP
BERKORBAN
Di hari
pahlawan 10 November ini kita diajak mengenang kembali perjuangan para pahlawan
yang telah gugur dalam memperjuangkan tegaknya bangsa Indonesia yang besar ini.
Mereka berjuang mengorbankan darah, harta, masa muda bahkan tidak sedikit
pahlawan kita gugur di medan juang memberikan nyawa demi utuhnya negara Indonesia
yang kita cintai ini.
Saat ini para
pemuda dituntut untuk meneruskan perjuangan para pahlawan. Tidak putus kita
dengar selama ini bahwa pemuda adalah generasi penerus bangsa. Artinya
kemerdekaan dan keutuhan bangsa saat ini suatu saat akan dibebankan kepada para
pemuda. Ada banyak jenis pemuda yang bisa kita perhatikan saat ini, pemuda yang
fokus kuliah, sibuk membangun usaha, sibuk mengembangkan chanel youtube, sibuk
berdiskusi ditongkrongan, sibuk berkampanye di media sosial, sibuk mendalami
ilmu agama, sibuk mendalami ilmu kebathinan. Mereka-mereka inilah yang suatu
saat nanti akan mengisi pos-pos yang ada demi menjaga keberlangsungan negara
Indonesia. Ada yang akan menjadi pos pemerintah desa, pemerintah daerah,
pemerintah pusat, akan menjadi pengawal jalannya pemerintahan, akan menjadi
wirausahawan, programer, petani, nelayan, dan profesi lainnya yang semuanya itu adalah
profesi yang mulia.
Namun saat ini
kita semua dihadapkan dengan carut marut jalannya pemerintahan, budaya korupsi
sudah dianggap biasa, bukan hanya pada lembaga pemerintah saja nepotisme dan
suap-menyuap menjadi pemandangan umum setiap hari dan budaya seperti ini
menyebabkan berbagai kerusakan yang luar biasa. Buruknya pelayanan, ketimpangan
sosial, degradasi moral, bahkan bahkan budaya hitam ini mengancam keberlangsungan
sebuah bangsa.
Pemuda harus
menjadi problem solver dan agen of change. Pemuda harus membentengi
diri dengan iman agar tidak tergoda dengan godaan budaya yang buruk dan rusak. Pemuda
harus mempunyai soft skill agar bisa bersaing dan profesional karena ketidak
profesionalan adalah awal dari terjerumusnya kita pada budaya hitam nan kelam.
Pemuda harus kompak dan berkolaborasi saling merangkul dan saling mengajak
untuk maju karena seikat lidi akan menjadi kuat dan sulit dipatahkan.
Artinya saat
ini pemuda harus bergerak dan berkorban. Berkorban menyisihkan waktu
nongkrongnya untuk sebentar mampir dikajian atau mendalami ilmu agama.
Berkorban tenaga untuk mulai investasi dibidang soft skill. Dan mengorbankan
sedikit candaan ditongkrongan untuk mulai berkolaborasi membentuk
komunitas-komunitas positif baik itu dibidang seni, olahraga, atau keilmuan.
Jangan habiskan energi untuk kegiatan-kegiatan
yang tidak ada hasilnya berburu video berdurasi 19 detik misalnya. Kita arahkan kegiatan-kegiatan kita menjadi kegiatan bermanfaat
dan mengasilkan karya. Yang hoby bermain game online bisa menjadi gamers,
rangkul teman satu hoby adakan turnamen. Yang hoby nongkrong sesekali kritisi
kegiatan pemerintah, Yang hoby olahraga buat komunitas olahraga, yang punya
kawan satu jurusan adakan diskusi buat grup belajar. Yang hoby desain buat
komunitas karyanya bisa disumbangkan kedaerah.
Tentu ini menjadi tantangan bagi pemuda saat
ini yang katanya akan menjadi generasi penerus bangsa. Di era
milenial ini semua serba mudah peningkatan soft skill bisa lewat internet atau
youtube, pelatihan bisa lewat aplikasi zoom, bahkan sekolah dan kuliah bisa
online atau daring. Walaupun benar canggihnya zaman diirngi dengan godaan yang
canggih pula namun konsistensi menjadi pengorbanan kita dalam berjuang.
Ekspektasi tinggi juga membebani pundak pemuda
kita tau bahwa harapan akan berujung kekecewaan. Namun jika sudah direncanakan
dan sesuai dengan koridor perjuangan dan pengorbanan pemuda dalam berkarya dan
memberikan sumbangsih pada bangsa, bersiap menjadi generasi penerus pengorbanan
pasti akan dihargai. Tidak dimata manusia, sesungguhnya tuhan maha melihat dan
maha mengetahui.